Rabu, 23 Desember 2009

RESUME PSIKOLOGI AGAMA


RESUME PSIKOLOGI AGAMA

1. Sejarah psikologi agama

Dalam sejarah manusia, ilmu dan agama selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama-sama kerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, agama memandang ilmu sebagai sesat, sebaliknya ilmu memandang perilaku keagamaan sebagai kedunguan.Belakangan fenomena menunjukkan bahwa kepongahan ilmu tumbang didepan keagungan spiritualitas, sehinga bukan saja tidak bertengkar tetapi antara keduanya terjadi perkawinan, seperti yang disebut oleh seorang tokoh psikologi tranpersonal, Ken Wilber; Pernikahan antara Tubuh dan Roh, The Marriage of Sence and Soul.(Ken Wilber, The Marriage of Sence and Soul, Boston, Shambala,2000).
Bagi orang beragama, agama menyentuh bagian yang terdalam dari dirinya, dan psikologi membantu dalam penghayatan agamanya dan membantu memahami penghayatan orang lain atas agama yang dianutnya. Secara lahir agama menampakkan diri dalam bermacam-macam realitas; dari sekedar moralitas atau ajaran akhlak hingga ideologi gerakan, dari ekpressi spiritual yang sangat individu hingga tindakan kekerasan massal, dari ritus-ritus ibadah dan kata-kata hikmah yang menyejukkan hati hingga agitasi dan teriakan jargon-jargon agama (misalnya takbir) yang membakar massa. Inilah kesulitan memahami agama secara ilmah, oleh karena itu hampir tidak ada definisi agama
yang mencakup semua realitas agama. Sebagian besar definisi agama tidak komprehensip dan hanya memuaskan pembuatnya. Psikologi Barat yang diassumsikan mempelajari perilaku berdasar hukum-hukum dan pengalaman kejiwaan universal ternyata memiliki bias culture, oleh karena itu teori psikologi Barat lebih tepat untuk menguak keberagamaan orang yang hidup dalam kultur Barat. Psikologi Barat begitu sulit menganalisis fenomena Revolusi Iran yang dipimpin Khumaini karena keberagamaan yang khas Syi’ah tidak tercover oleh Psikologi Barat, sebagaimana juga sekarang tidak bisa membedah apa makna senyum Amrozi ketika di vonis hukuman mati. Keberagamaan seseorang harus diteliti dengan the Indigenous Psychology, yakni psikologi yang berbasis kultur masyarakat yang diteliti. Untuk meneliti keberagamaan orang Islam juga hanya mungkin jika menggunakan paradigma The Islamic Indigenous Psychology.
Psikologi sebagai ilmu baru lahir pada abad 18 Masehi meski akarnya menhunjam jauh ke zaman purba. Dalam sejarah keilmuan Islam, kajian tentang jiwa tidak seperti psikologi yang menekankan pada perilaku, tetapi jiwa dibahas dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu yang muncul bukan Ilmu Jiwa (`ilm an nafs), tetapi ilmu Akhlak dan Tasauf. Meneliti keberagamaan seorang muslim dengan pendekatan psikosufistik akan lebih mendekati realitas keberagamaan kaum muslimin dibanding dengan paradigma Psikologi Barat. Term-term Qalb, `aql, bashirah (nurani), syahwat dan hawa (hawa nafsu)yang ada dalam al Qur’an akan lebih memudahkan menangkap realitas keberagamaan seorang muslim.
Kesulitan memahami realitas agama itu direspond The Encyclopedia of Philosophy yang mendaftar komponen-komponen agama. Menurut Encyclopedia itu, agama mempunyai ciri-ciri khas (characteristic features of religion) sebagai berikut :

1. Kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan)
2. Pembedaan antara yang sakral dan yang profan.
3. Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral
4. Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan
5. Perasaan yang khas agama (takjub, misteri, harap, cemas, merasa berdosa, memuja) yang cenderung muncul di tempat sakral atau diwaktu menjalankan ritual, dan kesemuanya itu dihubungkan dengan gagasan Ketuhanan.
6. Sembahyang atau doa dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan
7. Konsep hidup di dunia dan apa yang harus dilakukan dihubungkan dengan Tuhan
8. Kelompok sosial seagama, seiman atau seaspirasi.

Urgensi pendekatan Indigenous Psychology bukan saja karena agama itu sangat beragam, bahkan satu agamapun, Islam misalnya memiliki keragaman keberagamaan yang sangat kompleks. Orang beragama ada yang sangat rational, ada yang tradisional, ada yang “fundamentalis” dan ada yang irational. Keberagamaan orang beragama juga ada yang konsisten antara keberagamaan individual dengan keberagamaan sosialnya, tetapi ada yang secara individu ia sangat saleh, ahli ibadah, tetapi secara sosial ia tidak saleh. Sebaliknya ada orang yang kebeagamaanya mewujud dalam perilaku sosial yang sangat saleh, sementara secara individu ia tidak menjalankan ritual ibadah secara memadai.

2. Pengertian dasar psikologi agama

Secara operasional, psikologi agama dapat didefinisikan sebagai: “Cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi, jadi merupakan kajian empiris”.
Psikologi Agama mempelajari psikis manusia dalam hubungannya dengan manifestasi keagamaannya, yaitu kesadaran agama (religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Kesadaran agama: hadir dalam pikiran dan dapat dikaji dengan introspeksi. Pengalaman agama: perasaan yang hadir dalam keyakinan sebagai buah dari amal keagamaan semisal melazimkan dzikir. Jadi, obyek studinya dapat berupa: (1) Gejala-gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan; dan (2) Proses hubungan antara psikis manusia dan tingkah laku keagamaannya.
Definisi ini sangat bersikap aplikatif yang dipandang dapat langsung kita temui di sekitar kita. Yang dikarenakan psikologi sebagai ilmu ingin meneliti fenomena-fenomena yang terkadang distorsi appersepsi dengan appersepsi manusia kebanyakan.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya. (Sumber ; Ibid hal 5)
Dalam definisi ini terkadang kita akan mudah dalam menyamakan semua agama yang benar. Hanya saja ketika kita sudah beranggapan seperti itu, makakita akan kehilangan spiritual ataupun agama yang kita yakini tersebut.
Secara sekilas psikologi agama akan kita definisikan sebagai ilmu perilaku yang membahas dan meneliti tentang fenomena-fenomena keberagaman seseorang.
Hanya saja kemudian yang penting digaris bawahi adalah psikologi agama ini hendaknya menjadi pembahasan dan penelitian yang sangat mendalam, terutama bagi pribadi yang akan membahas dan menelitinya.

3. Lima dimensi keberagamaan

Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktifitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktifitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktifitas yang nampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktifitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Karena itu keberagamaan seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi.
Menurut Glock dan Stark, ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu :
Dimensi keyakinan. Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrinnya.
Dimensi praktek agama. Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu, meski tidak tepat jika dikatakan bahwa seseorang yang beragama dengan baik pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan subjektif dan langsung mengenai kenyatassan terakhir (kenyataan terakhir bahwa ia akan mencapai suatu kontak dengan kekuatan spranatural).
Dimensi pengamalan atau konsekuensi. Konsekuensi komitmen agama berlainan dari keempat dimensi yang ada. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.
Dimensi pengetahuan keagamaan. Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi.

4. Metodologi dalam psikologi agama dan tradisi penelitiannya
Metodologi dalam psikologi agama dalam penelitiannya adalah dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan yang terkumpul dan dianalisis secara objektif
Dirasa cukup sulit dalam melakukan penelitian terhadap agama, dikarenakan agama merupakan lebih pada aspek kebatinan dan kemudian bagaimana penelitian itu bersifat objektif dalam proses dan hasil dari penelitian tersebut. Maka kemudian perlu diperhatikan beberapa hal dalam melakukan penelitian, antara lain :
1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia
2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
3. Dalam penelitian harus bersikap filosofis spiritualistis
4. Tidak mencampur adukkan antara fakta dengan angan-angan atau khayali
5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi dan metodenya
6. Memiliki konsep mengenai agama serta pengetahuan metodeloginya
7. Menyadari adanya perbedaan antara ilmu dan agama
8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah
Sehingga dengan memperhatikan beberapa petunjuk dalam melakukan penelitian psikologi agama , peneliti dapat melakukan penelitian psikologi agama yang diharapakan dalam mengumpulkan, mengolah dan menganalisa suatu data tentang psikologi agama dapat lebih objektif.
Dalam melakukan penelitian psikologi agama ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam penelitian, antara lain :
1. Dokumen Pribadi
Metode dokumen pribadi ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Metode ini lebih pada dokumen pribadi seorang dalam bentuk autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya. Dalam penerapannya, metode dokumen pribadi dilakukan dengan cara atau dengan tekhnik-tekhnik tertentu diantaranya :
a. Teknik Nomotatik
b. Teknik Analisis Nilai (Value Analisys)
c. Teknik Idiography
d. Teknik Penilaian Terhadap Sikap (evaluation attitudes technique)
2. Kuesioner dan Wawancara
5. Agama, doktrin dan aspek-aspek keagamaan mengenai pengalaman puncak
6. Agama, diagnosis kejiwaan dan kesehatan mental
Di zaman kuno, hampir semua penyakit manusia selalu dikaitkan dengan gejala-gejala spiritual. Yang lebi dikenal dengan gangguan makhluk halus. Sehingga membuat penderitanya sangat sering berhubungan dengan dukun yang dikatakan dapat berhubingan langsung dengan makhluk halus dan dapat menyembuhkan semua penyakit yang dideritanya.
Berbeda dengan zaman kuno, orang-rang yang hidupnya di zaman modern seperti saat ini, penyakit manusia diidentikkan dengan penyakit yang ditimbulkan dengan gejala-gejala biologis. Yang kemudian diasumsikan oleh dunia modern tentang anggapan bahwasanya penyakit manusia pada zaman kuno itu adalah disebabkan makhluk halus. Maka kemudian dunia modern menyebutnya adalah sebagai kuman, atau virus. Asumsi ini sebagian besar terbukti dengan keberhasilan pengobatan yang digunakan dari penemuan dibidang kedokteran modern.
Sejumlah kasus yang mengindikasikan adanya hubungan antara faktor keyakinan atau agama dengan kesehatan mental. Misalnya dalam pernyataan Carel Gustay Jung diantara pasien saya yang setengah baya, tidak seorangpun yang menyebabkan penyebab kejiwaannya tidak dilatarbelakangi oleh aspek keagamaan. (K.H.S.S.Djaman, 1975:17).
Kenyataan serupa banyak dijumpai didalam beberapa buku yang membahas dan mengungkapkan akan eratnya hubungan antara agama dan kesehatan mental. Seperti buku yang berjudul peranan agama dan kesehatan mental yang ditulis oleh Prof. Dr. Zakiah Drajat dan Agama dan kesehatan mental. yang disusun oleh Prof. Dr. Aulia.
Dr. Muhammad Mahmud Abd Al-Qodir lebih jauh membahas hubungan antara gama dan kesehatan mentalmelalui pendekatan biokimia. Menurutnya didalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai biokimiatertentu, disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh pada existensi dan selanjutnya memberi pengaruh kepada eksistensi dan berbagai kegiatan tubuh. Persenyawaan-persenyawaan tersebut disebut hormon.
Kelenjar hormon yang mengatur kekuasaan otonomi dalam tubuh adalah kelenjar hipofise. Kelenjar ini menjadi pengatur semua kelenjar hormon yang terdapat dalam tubuh. Selanjutnya, diantara kelenjar lain yang mempunyai pengaruh biologis yang amat spesifik adalah kelenjar adrenal. Pengaruh tersebut bersumber bersumber dari hormon adrenalin dan non adrenalin yang dihasilkannya. Hal ini terbukti ketika sedih, sussah dan gelisah ataupun pesimis maka hormon adrenalin kita meningkat dan hormon noradrenalin menurun. Sebaliknya ketika kita merasa optimis dan bersemangat dalam menjalankan hidup ini maka hormon adrenalin akan menurun dan sebaliknya hormon noradrenalin meningkat.
7. Agama dan rasionalitas manusia
8. Psikoreligius dan psikospiritual
9. Konversi agama
10. Agama dan perubahan sosial

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
;