Kamis, 12 November 2009

ANALISIS PSIKOLOGIS FILM A BEAUTIFUL MIND


ANALISIS PSIKOLOGIS FILM A BEAUTIFUL MIND
BY Ridho Hudayana (Mahasiswa Psikologi UIN MALIKI Malang


A.PENDAHULUAN

Skizofrenia adalah suatu penyakit kejiwaan atau mental yang sangat menarik untuki di observasi baik dari perilaku, maupun perkataan dari penderita skizofrenia. Sikarenakan skizofrenia ini adalah salah satu penyakit mental atau kejiwaan yang belum diketahui seecara pasti penyebabnya. Dan juga skizofrenia ini juga sekaligus penyakit jiwa yang palig banyak terjadi dibandigkan dengan penyakit lainnya.
Begitu halnya mengobservasi perilaku skizofrenia didalam film “A Beautiful Mind”. Dimana penderita dari skizofrenia itu sendiri adalah seorang pemeran utama John Nash, seorang ahli matematika yang jenius dan berhasil memenangkan penghargaan nobel atas penemuan rumus konsep ekonomi yang kini dijadikan sebagai dasar teori ekonomi kontemporer.
Yang menarik dari observasi ini adalah sebuah pergolakan hidup dari seorang John Nash debagai ahli matematika yang mengidap skizofrenia dan pada akhirnya bisa menjalani hidupnya di usia yang senja sengan normal.

B.LANDASAN TEORI

Skizofrenia adalah penyakit jiwa yang gejala-gejalanya adalah dingin perasaan, banyak tenggelam dalam lamunan yang jauh dari keyataan, mempunyai prasangka-prasangka yang tidak benar, salah tanggapan halusinasi pendengaran, penciuman atau penglihatan, banyak putus asa dan keinginan menjauhkan diri dari masyarakat dan lain-lain.
Dalam buku pedoman diagnostik dipaparkan symto-symtom dari skizofrenia sebagai berikut:
a. -“Thoght Echo”: isi pikiran dirinyasendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya dan isi pikirannya ulangan, walaupu isinya sama, namun kualitasnya berbeda.
-“Thought Insertion or witdrawl”: pikiran asaing dari luar masuk kedalam pikirannya atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya.
-“ Thoght Broadcasting”: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang asing lain atau umum mengetahuinya.
b. -“Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh sesuatu kekuatan tertentu dari luar.
-“Delusion of iinfuence: Wahan tentang dirinya dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan tertentu dari luar.
-“Delusion of passivity”: waham tentang diinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang “dirinya” secara jelas menunjuk kepergerakan tubuh/anggota gerak kepikiran tindakan, atau penginderaan khusus.
-“Delusion perception”: penglaman inderawi yang tak wajar, yang bermaka dangat khas bagi dirinyabiadanya bersifat mistik/mukzizat.
c. Halusinasi Auditorik: suara halusinasi dan jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap lainnya yang menurut penduduk detempat tidak wajar dan sesuatu ang mustahil.
e. halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja.
f. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan, yang berakibat inkoherensi/pembicaraan yang tidak relevan/neologisme.
g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah.
h. Gejala-gejala negatif, seperti sikap apatis, berbicara jarang dan respon emosional yang menumpul/tidak wajar.

C.BATAS DAN PEDOMAN OBSERVASI

Yg mejnjadi batasan obsevasi perilaku skizofrenia ini adalah sebagai berikut:
a. -“Thoght Echo”: isi pikiran dirinyasendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya dan isi pikirannya ulangan, walaupu isinya sama, namun kualitasnya berbeda.
-“Thought Insertion or witdrawl”: pikiran asaing dari luar masuk kedalam pikirannya atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya.
- “ Thoght Broadcasting”: isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang asing lain atau umum mengetahuinya.
b. -“Delusion of control: waham tentang dirinya dikendalikan oleh sesuatu kekuatan tertentu dari luar.
-“Delusion of iinfuence: Wahan tentang dirinya dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan tertentu dari luar.
-“Delusion of passivity”: waham tentang diinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang “dirinya” secara jelas menunjuk kepergerakan tubuh/anggota gerak kepikiran tindakan, atau penginderaan khusus.
-“Delusion perception”: penglaman inderawi yang tak wajar, yang bermaka dangat khas bagi dirinyabiadanya bersifat mistik/mukzizat.
c. Halusinasi Auditorik: suara halusinasi dan jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap lainnya yang menurut penduduk detempat tidak wajar dan sesuatu ang mustahil.
e. halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja.
f. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan, yang berakibat inkoherensi/pembicaraan yang tidak relevan/neologisme.
g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah.
h. Gejala-gejala negatif, seperti sikap apatis, berbicara jarang dan respon emosional yang menumpul/tidak wajar.

Alat atau metode yang digunakan dalam observasi film A Beautiful Mind ini adalah sengan metode catatan anekdotal, karena perilaku penderita skizoprenia yang ada didalam film ini sangat terlihat jelas untuk dapat digambarkan.



D.GAMBARAN OBJEK DAN TEMPAT OBSERVASI

Film A Beautiful Mind menggambarkan kisah perjuangan seorang ahli matematika genius yang bernama John Forbes Nash, Sejak awal, Nash –lelaki sederhana dari dusun Virginia— digambarkan sebagai pribadi penyendiri, pemalu, rendah diri, introvert sekaligus aneh. ”Aku tak terlalu suka berhubungan dengan orang dan rasanya tak ada orang yang menyukaiku,” ujar Nash berkali-kali. Di balik segala kekurangannya, Nash juga digambarkan sebagai laki-laki arogan yang bangga akan kepandaiannya. Ini ditunjukkannnya dengan cara menolak mengikuti kuliah yang dianggapnya hanya menghabiskan waktu dan membuat otak tumpul. yang berhasil menciptakan konsep ekonomi yang kini dijadikan sebagai dasar dari teori ekonomi kontemporer.
Selama Perang Dingin berlangsung, Nash mengidap schizophrenia yang membuatnya hidup dalam halusinasi dan selalu dibayangi ketakutan hingga ia harus berjuang keras untuk sembuh dan meraih hadiah Nobel tahun 1994, kala ia memasuki usia senja.
Tempat bservasi yang sesuai dengan yang ada di film A Beautiful Mind adalah di universitas bergengsi, Princeton University dan di pusat penelitian bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.

E.HASIL OBSERVASI

Kisah dibuka dengan Nash muda di tahun 1948 yang memulai hari-hari pertama kuliahnya di universitas bergengsi, Princeton University. Sejak awal, Nash –lelaki sederhana dari dusun Virginia— digambarkan sebagai pribadi penyendiri, pemalu, rendah diri, introvert sekaligus aneh. ”Aku tak terlalu suka berhubungan dengan orang dan rasanya tak ada orang yang menyukaiku,” ujar Nash berkali-kali.
Di balik segala kekurangannya, Nash juga digambarkan sebagai laki-laki arogan yang bangga akan kepandaiannya. Ini ditunjukkannnya dengan cara menolak mengikuti kuliah yang dianggapnya hanya menghabiskan waktu dan membuat otak tumpul. Sebagai gantinya, Nash lebih banyak meluangkan waktu di luar kelas demi mendapatkan ide orisinal untuk meraih gelar doktornya dan diterima di pusat penelitian bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.


Di tengah persaingan ketat, Nash mendapat teman sekamar yang sangat memakluminya, Charles Herman yang memiliki keponakan seorang gadis cilik Marcee. Nash yang amat terobsesi dengan matematika–sampai-sampai menulis berbagai rumus di kaca jendela kamar dan perpustakaan—akhirnya secara tak sengaja berhasil menemukan konsep baru yang bertentangan dengan teori bapak ekonomi modern dunia, Adam Smith. Konsep inilah yang dinamakannya dengan teori keseimbangan, yang mengantarkannya meraih gelar doktor. Mimpi Nash menjadi kenyataan. Tak hanya meraih gelar doktor, ia berhasil diterima sebagai peneliti dan pengajar di MIT.

Hidup Nash mulai berubah ketika ia diminta Pentagon memecahkan kode rahasia yang dikirim tentara Sovyet. Di sana, ia bertemu agen rahasia William Parcher. Dari agen rahasia ini, ia diberi pekerjaan sebagai mata-mata. Pekerjaan barunya ini membuat Nash terobsesi sampai ia lupa waktu dan hidup di dunianya sendiri.

Adalah Alicia Larde, seorang mahasiswinya yang cantik, yang membuatnya sadar bahwa ia juga membutuhkan cinta. Ketika pasangan ini menikah, Nash justru semakin parah dan merasa terus berada dalam ancaman bahaya gara-gara pekerjaannya sebagai agen rahasia. Nash semakin hari semakin terlihat aneh dan ketakutan, sampai akhirnya ketika ia sedang membawakan makalahnya di sebuah seminar di Harvard, Dr Rosen seorang ahli jiwa menangkap dan membawanya ke rumah sakit jiwa. Dari situlah terungkap, Nash mengidap paranoid schizophrenia. Beberapa kejadian yang dialami Nash selama ini hanya khayalan belaka. Tak pernah ada teman sekamar, Herman dan keponakannya yang menggemaskan, Marcee ataupun Parcher dengan proyek rahasianya.

Untungnya, Alicia adalah seorang istri setia yang tak pernah lelah memberi semangat pada suaminya. Dengan dorongan semangat serta cinta kasih yang tak pernah habis dari Alicia, Nash bangkit dan berjuang melawan penyakitnya.

F.PEMBAHASAN

Dari film tersebut dapat diketahui bahwa John Nash menderita skizofrenia paranoid, yang ditandai dengan simpton – simpton/ indikasi sebagai berikut:

1. adanya delusi atau waham, yakni keyakinan palsu yang dipertahankan.

- Waham Kejar (delusion of persecution), yaitu keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau berencana membahayakan dirinya, dalam film tersebut yaitu agen pemerintah dan mata – mata rusia. Waham ini menjadikannya paranoid, yang selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti, serta diawasi.

- Waham Kebesaran (delusion of grandeur), yaitu keyakinan bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta menjadi orang penting. John Nash menganggap dirinya adalah pemecah kode rahasia terbaik dan mata – mata/agen rahasia.

- Waham Pengaruh (delusion of influence), adalah keyakinan bahwa kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya. Adegan yang menunjukkan waham ini yaitu ketika disuruh membunuh isterinya, ketika disuruh menunjukkan bahwa dia jenius, dan ketika diyakinkan bahwa dia tidak berarti oleh para teman halusinasinya.

2. adanya halusinasi, yaitu persepsi palsu atau menganggap suatu hal ada dan nyata padahal kenyataannya hal tersebut hanyalah khayalan. John Nash mengalami halusinasi bertemu dengan tiga orang yang secara nyata tidak ada yaitu Charles Herman (teman sekamarnya), William Parcher (agen pemerintah) dan Marcee (keponakan Charles Herman). Selain itu juga laboratorium rahasia, dan juga nomer kode yang dipasang pada tangannya.

3. gejala motorik dapat dilihat dari ekpresi wajah yang aneh dan khas diikuti dengan gerakan tangan, jari dan lengan yg aneh. Indikasi ini sangat jelas ketika John Nash berkenalan dengan teman – temannya dan juga jika dilihat dari cara berjalannya.

4. adanya gangguan emosi, adegan yang paling jelas yaitu ketika John Nash menggendong anaknya dengan tanpa emosi sedikitpun.

5. social withdrawl (penarikan sosial), John Nash tidak bisa berinteraksi sosial seperti orang – orang pada umumnya, dia tidak menyukai orang lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya sehingga dia hanya memiliki sedikit teman.

Stressor atau kejadian – kejadian yang menekan yang membuat skizofrenia John Nash bertambah parah, yaitu :
- Kalah bermain dari temannya
- Merasa gagal berprestasi untuk mendapatkan cita – citanya
- Merasa tidak dapat melayani isterinya
- Tidak bisa bekerja atau mendapatkan pekerjaan kembali




G.KESIMPULAN

Sampai saat ini Skizofrenia adalah salah satu penyakit mental yang belum diketahui pasti penyebabnya. Bukti terbaru mengatakan bahwa struktur maupun aktivitas otak penderitanya adalah abnormal, namun demikian selain penyebab genetik (biologis) bisa dimungkinkan bahwa skizofrenia juga disebabkan oleh faktor sosial dan psikologis
.
H.DAFTAR PUSTAKA

Chaplin, J.P. 2001. Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono. Jakarta : PT RajaGrafindo Perkasa.
Kartono, Kartini. 2000. Hygiene Mental. Bandung: CV. Mandar Maju.
Maslim, Rusdi, ed. Buku Saku PPDGJ III, Jakarta, 1995.
Ardi, Ardani, Tristiadi, Dkk. 2007. Psikologi Klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

1 komentar:

bety hikari mengatakan...

postingan yg sangat menarik..
saya ingin bertanya,, apakah terapi ECT itu efektif untuk menangani para penderita skizofrenia..

Poskan Komentar

 
;