Senin, 07 Desember 2009

Kepribadian dalam hadits nabi


Kepribadian dalam hadits nabi
By:
Ridho Hudayana
Fina Hidayati
Minanurrahman


A. LATAR BELAKANG
Semua kajian para psikolog sekalipun terlihat cukup beragam dari berbeda-beda lingkup kajiannya, namun pada intinya focus studi mereka adalah untuk mencapai target yang sama, yaitu memahami kepribadian manusia. Agar kita bisa memahami kepribadian manusia secara benar, kita wajib mengetahui semua komponen yang memiliki kontribusi untuk membentuk sebuah kepribadian. Bahkan kita juga harus mengetahui berbagai factor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian secara baik
Jauh sebelum para penemu teori psikologi kontemporer menemukan teori-teorinya tentang struktur kepribadian manusi, dalam Al-Qur’an sebenarnya sudah menyinggung tentang hal itu. Dan pada perinciannya dijelaskan pada hadist-hadist Rosulullah SAW. Baik itu struktur kepribadian, tipe kepribadian dan sampai factor-faktor yang mempengaruhi kepribadian.
Dalam pembahasan kali ini akan menyinggung tentang perihal ayat Al-Qur’an dan hadist-hadit yang menjelaskan tentang kepribadian manusia. Disini kita akan menganalisisnya dan membandingkannya dengan teori-teori psikologi kontemporer. Sehingga kita bisa menambah pengetahuan tentang kepribadian manusia melalui sumber Ayat-Ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi.

B. PROBLEM YANG DIKEDEPANKAN
Para psikolog modern begitu serius mempelajari dan memahami kepribadian manusia secara sempurna. Banyak sekali teori yang mereka cetuskan dalam permasalahan ini. Akan tetapi sampai sekarang mereka belum berhasil menyepakati satu teori universal tentang kepridian manusia yang bisa diterima semua pihak. Hal ini disebabkan masing-masing mereka melihat kepribadian manusia dari sudut yang berbeda sesuai dengan kecenderungannya. Akhirnya pandangan mereka mengenai perilaku manusia hanya terpusat pada salah satu dimensi saja.
Kajian psikolog modern yang hanya membatasi ruang lingkup obyek material dan senantiasa tunduk pada metode penelitian obyektif dalam mengkaji manusia menyebabkan kita sampai sekarang tidak mungkin memahami manusia secara utuh. Karena mereka seringkali mengabaikan studi interdimensi dan studi substansial tentang perilaku manusia. Sehingga kita tidak bisa mendapatkan informasi lengkap dan akurat tentang kepribadian manusia.
Oleh karena itu, diantara yang mendesak dilakukan dengan cara menentukan metode baru yang bisa digunakann untuk mengkaji dimensi spiritual manusia yang selama ini tidak diterjemah oleh para psikolog modern. Untuk memudahkan pada kajian tersebut, kita harus meminta bantuan kajian agama-agama samawi maupun keterangan para Nabi dan Rosul mengenai hakikat manusia. Hakikat-hakikat inilah yang tidak perlu diragukan lagi, karena bersumber dari Allah Ta’ala Sang Pencipta manusia.
Allah SWT Berfirman :

“ Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahiu (yang kamu lahirkan dan kamu rahasiakan); dan dia Maha Halus dan Maha Mengetahui ”

C. DEFINISI OPERASIONAL
Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berfikir, merasa dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan social dan tekanan biologic saat itu. Dan karakteristik itulah yang membedakan antara individu yang satu dengan lainnya (individual different).
Hadist Nabi adalah segala sesuatu yang telah dinukilkan dari Nabi SAW, baik itu berupa perkataan, perbuatan dan taqrirnya (kebiasaannya).

D. PERSPEKTI KEPRIBADIAN TENTANG KEPRIBADIAN
• Teori Kepribadian oleh Abraham Maslow
Abraham maslow menjadi orang pertama yang memproklamirkan aliran humanistic sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi. Humanisme menentang pesimisme dan keputus asaan pandangan psikoanalitik dan konsep kehidupan robot. Pandangan behaviorisme. Holisme yakin bahwa manusia memiliki didalam dirinya potensi untuk berkembang sehat dan kreatif, dan jika orang mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri, dia akan menyadari potensinya lebih kuat disbanding pengaruh pendidikan orang tua, sekolah dan tekanan sosialnya. Pandangan humanisme dalam kepribadian menekankan hal-hal :
a) Holisme, menegaskan bahwa organisme selalu bertingkah laku sebagai kesatian yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian-bagian yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsure yang terpisah tetapi bagian dari satu kesatuan, dan apa yang terjadi pada bagian yang satu akan mempengaruhi bagian yang lainnya.
b) Menolak riset binatang
Pada teori behavior, manusia disamakan dengan riset binatang. Tapi pada humanistic ini manusia adalah makhluk yang istimewa dan tidak sama dengan binatang, karena manusia mempunyai akal yang bisa membuat mereka mempunyai peradaban.
c) Manusia Pada Dasarnya baik, mereka memiliki struktur psikologik yang yang analog dengan srtuktur fisik; mereka memiliki “kebutuhan, kemampuan, dan kecenderungan yang sifat dasarnya genetik”. Beberapa sifat menjadi cirri umum kemanusiaan , lainnya menjadi unik individual.. kebutuhan, kemampuan dan kecenderungan itu menjadikan hakikat secara esensial baik.
d) Potensi kreatif merupakan cirri universal pada manusia. Seperti biji yang bisa menumbuhkan daun, dahan dan buah, burung bisa terbang, maka manusia kreatif.
e) Menekankan kesehatan psikologik. Pendekatan humanistic mengarahkan pusat perhatian kepada manusia yang sehat, kreatif dan mampu mengaktualisasikan diri.
Yang paling terkenal pada teori Abraham Maslow ini adalh tentang teori motivasinya. Dia menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhannya, yang oleh Maslow dibentuk dengan sebutan need hierarki. Yang pertama adalah kebutuhan fisiologis, belongingness/safety needs, love needs, esteem needs, dan yang terakhir adalah kebutuhan aktualisassi diri.
Menurut Maslow manusia akan mulai memenuhi kebutuhannya yang paling dasar sampai akhirnya pada kebutuhan yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri.
• Teori kepribadian oleh Carl Rogers
Pendekatan fenomenologi dari Rogers konsisten menekankan pandangan bahwa tingkah laku manusia hanya dapat difahami dari bagaimanan dia memandang realita secara subyektif. Pendekatan ini juga berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri, bahwa hakikat yang terdalam dari manusia adalah sifatnya yang bertujuan, dapat dipercaya, dan mengerjakan kesempurnaan diri.
Struktur Kepribadian
a. Organism adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologinya. Organismic adalah tempat semua experience, segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi seseorang mengenai event yang terjadi didalam diri dan didunia eksternal.
b. Phenomenal Field merupakan keseluruhan pengalaman baik internal maupun eksternal dan yang disadari maupun tidak disadari. Medan Fenomena adalah keseluruhan pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya didunia, sebagaimana persepsi subyektifnya.
c. Self. Beberapa penjelasan mengenai self dapat disimpulkan dari 19 rumusan Rogers:
 Self terbentuk melalui diferensiasi fenomenal field
 Self terbentuk melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu dan dari distorsi pengalaman
 Self bersifat integral dan konsisten
 Self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologic dan belajar

E. INVENTORIS AYAT AL-QUR’AN DAN HADIST NABI TENTANG KEPRIBADIAN
1. QS. Shaad (38): 71-72 ;

“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”
2.

“sesungguhnya salah seorang dari kalian telah dikumpulkan proses penciptaannya didalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian selama 40 hari dia akan menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) dan menjadi Mudghoh (sekerat daging) pada 40 hari lagi. Setelah itu dikirim malaikat meniupkan ruh kedalamnya”
3.

“tidak ada seorang jabang bayipun kecuali dia terlahir berdasarkan fitroh. Lantas kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi orang yahudi, nasrani, maupun majusi”.
4.



“Wahai Rosulullah, beritahukan (mana saja yang termasuk kebaikan dan dosa) kepadaku!” Rosulullah bersabda, “kamu dating untuk bertanya kepadaku tentang kebaikan dan keburukan?” Aku menjawab, “iya” lantas Rosulullah mengumpulkan ketiga jarinya. Beliau memasukkannya kedadaku sembari berkata, “Wahai Wabishah, mintalah fatwa kepada dirimu sendiri! Kebaikan adalah sesuatu yang dirasakan tenang oleh hati dan jiwa. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik hati dan menciptakan kebimbangan dalam dada”
5. QS. Ar-Ruum (30):22

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlai-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”

6.


“Manusia itu ibarat logam, sebagaimana logam terdiri dari emas dan perak ada yang unggul dimasa jahilliyah, maka juga akan unggul dimasa (setelah memeluk) islam jika menjadi orang-orang yang menguasai agama dengan baik”
7
.
“perempuan itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, karena keturunannya, karena keelokan wajahnya dank arena kualitas agamnya.utamakanlah wanita yang memiliki pengetahuan agama yang baik, niscaya kamu akan menjadi orang yang beruntung”.
8.


“Bukanlah termasuk orang yang baik apabila ia mau bekerja untuk dunianya dan mengabaikan akhiratnya, ataupun yang bekerja untuk akhiratnya dan meninggalkan dunianya, sesungguhnya sebaik-baiknya orang diantara kamu adalah yang bekerja untuk ini dan ini (Dunia dan akhiratnya)”. (Falsafatul Akhlak Fil Islam, Muhammad Mugniyah: 194-195)
9.

“sesungguhnya aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan memeluk agama yang hanif. Lalu setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka”. (HR. Muslim)
10.

“tidak ada keutamaan bagi seseorang atas orang lain kecuali dengan pertimbangan agama atau ketakwaan”. Didalam riwayat lain, “tidak ada keutamaan lain bagi seseorang atas orang lain kecuali berdasarkan agama atau amal sholeh”.
11. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Qashas 77 :


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

F. ANALISA PERBANDINGAN ANTARA PSIKOLOGI DAN HADIST
“(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”
“sesungguhnya salah seorang dari kalian telah dikumpulkan proses penciptaannya didalam perut ibunya selama 40 hari. Kemudian selama 40 hari dia akan menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) dan menjadi Mudghoh (sekerat daging) pada 40 hari lagi. Setelah itu dikirim malaikat meniupkan ruh kedalamnya”
Dari cuplikan ayat Al-Qur’an dan hadist diatas menerangkan bahwa dalam proses penciptaan diri manusia telah dikumpulkan beberapa sifat materi dan sifat spiritual. Dua hal inilah yang pada akhirnya menjadi dasar dari kepribadian manusia. Pada pendekatan Psikologi kontemporer aliran Humanisme memandang kepribadian manusia menekankan pada lima hal. Salah satunya adalah Holisme, yang menegaskan bahwa organisme selalu bertingkah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian-bagian yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsure yang terpisah tetapi bagian dari satu kesatuan, dan apa yang terjadi pada bagian yang satu akan mempengaruhi bagian yang lainnya.
“tidak ada seorang jabang bayipun kecuali dia terlahir berdasarkan fitroh. Lantas kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi orang yahudi, nasrani, maupun majusi”
“Wahai Rosulullah, beritahukan (mana saja yang termasuk kebaikan dan dosa) kepadaku!” Rosulullah bersabda, “kamu dating untuk bertanya kepadaku tentang kebaikan dan keburukan?” Aku menjawab, “iya” lantas Rosulullah mengumpulkan ketiga jarinya. Beliau memasukkannya kedadaku sembari berkata, “Wahai Wabishah, mintalah fatwa kepada dirimu sendiri! Kebaikan adalah sesuatu yang dirasakan tenang oleh hati dan jiwa. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik hati dan menciptakan kebimbangan dalam dada”
Dua hadist diatas menerangkan tentang fitroh manusia adalah pada kebaikan. Pada hadist yang pertama menjelaskan bahwa seorang bayi telah dibekali dengan hal yang baik, tapi lingkunganlah yang merubah anak itu yang semula baik menjadi yang lainnya. Kalau dalam psikolog humanistic menyatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya adalah baik. Bila anak berkembang tidak dengan tekanan dari orang tua atau lingkungan yang lain (missal;pendidikan formal)maka dia akan berkembang dengan baik secara otomatis.atau biasa disebut dengan kepribadian fully functioning.
Hadist yang kedua menerangkan tentang kisah sahabat yang bagaimana membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka Rosulullah menjawab; sesungguhnya hati kecil ini akan bias merasakan. Apakah hal itu baik ataukah buruk. Jadi dari itulah maka dapat diambil kesimpulan bahwa manusia diciptakan Allah adalah dengan dasar kebaikan.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlai-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”
Manusia itu ibarat logam, sebagaimana logam terdiri dari emas dan perak ada yang unggul dimasa jahilliyah, maka juga akan unggul dimasa (setelah memeluk) islam jika menjadi orang-orang yang menguasai agama dengan baik”
logam yang berada diperut bumi sangatlah beragam jenisnya. Ada logam emas,logam perak dan jenis logam yang lain sesuai dengan unsure dan kandungannya masing-masing. Sama halnya dengan manusia yang memiliki karakter, etika, kemampuan fisik dan kecerdasan yang beragam. Substansi ini adalah membahas perbedaan manusia secara natural. Jika kita melihat definisi dari kepribadian adalah suatu karakteristik yang dimiliki manusia secara konsisten yang membedakannya dengan manusia yang lain dan menjadi cirri khasnya. Jadi Allah memang menciptakan hambanya berbeda-beda tidak ada yang sama. Kalau kita memandangnya dari teori Rogers, hal itu dipengaruhi oleh pandangan subyektivitas individu yang dipengaruhi baik itu dari internal maupun eksternal.
“perempuan itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, karena keturunannya, karena keelokan wajahnya dan karena kualitas agamnya.utamakanlah wanita yang memiliki pengetahuan agama yang baik, niscaya kamu akan menjadi orang yang beruntung”. Pernyataan hadist tersebut yang menyatakan untuk memilih calin pasangan hidup ada 4 hal yang perlu diperhatikan dan salah satunya adalah factor keturunan. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya peran lingkungan bagi pembentukan kepribadian manusia. Dan yang paling utama adalah keluarga.
“Bukanlah termasuk orang yang baik apabila ia mau bekerja untuk dunianya dan mengabaikan akhiratnya, ataupun yang bekerja untuk akhiratnya dan meninggalkan dunianya, sesungguhnya sebaik-baiknya orang diantara kamu adalah yang bekerja untuk ini dan ini (Dunia dan akhiratnya)”. (Falsafatul Akhlak Fil Islam, Muhammad Mugniyah: 194-195). Inilah gambaran kepribadian yang baik menurut islam yakni dapat menyeimbangkan kebutuhan tubuh dan ruhnya atau kebutuhan fisik dan spiritualnya.
Sedangkan kepribadian manusia yang buruk adalah manusia yang berlindung dibawah kendali syahwat dan hawa nafsunya. Ataupu sebaliknya yakni orang yang mengekang factor biologisnya dan memaksa tubuhnya untuk selalu beribadah dan beribadah sehingga melemahkan tubuhnya sendiri. Kalo dari segi pandangan teori Maslow perilaku manusia adalah dipengaruhi oleh need hierarkinya. Seorang individu akan memenuhi kebutuhan yang dasar terlebih dahulu barulah akan bertahap ketingkat yang selanjutnya. Dalamm kasus ini islam memandangnya berbeda, bahwa manusia yang baik adalah seimbang antara kebutuhan fisik dan rohaninya. Untuk pencapaian yang ketingkat tinggi (actualisasi diri) maka manusia tidak harus memenuhi kebutuhannya yang paling dasar dulu (kebutuhan fisiologi). Misalnya adalah orang-orang yang mengambil jalan tasawuf.
“tidak ada keutamaan bagi seseorang atas orang lain kecuali dengan pertimbangan agama atau ketakwaan”. Didalam riwayat lain, “tidak ada keutamaan lain bagi seseorang atas orang lain kecuali berdasarkan agama atau amal sholeh”.
Keimanan memiliki peran yang vital dalam kehidupan seorang muslim. Keimanan adalah sesuatu yang akan mengarahkan dan membentuk perilaku manusia, baik ketika dia berinteraksi dengan Tuhannya, dirinya sendiri dan dengan orang lain. Keimanan ini bias diartikan menjadi konsep diri yang baik bagi umat muslim. Dengan iman dan takwa yang dimiliki, maka seseorang akan menjadi manusia yang teguh pendirian dan tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat negative.
“sesungguhnya aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan memeluk agama yang hanif. Lalu setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka”. (HR. Muslim). Hadits ini menjelaskan bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia dalam kedudukannya sebagai hamba Allah. Adalah memiliki kepribadian hanif, yakni dalam suatu kondisi dekat pada kebenaran dan dalam keadaan berislam, hanya saja permasalahannya adalah tidak semua manusia dikembalikan dalam berkepribadian sebagai muslim. Dalam hadist ini menyatakan factor yang membuat orang tidak dikembalikan dalam berkepribadian sebagai muslim atau melenceng dari keislaman adalah dikarenakan factor humanis yakni, dari bentuk pendidikan dan pengajaran yang tidak sesuai dengan dengan islam atau selain islam.sehingga dibutuhkan bentuk pendidikan dan pengajaran yang mengarahkan manusia pada islam sehingga terhindar dari pelencengan atau penyimpangan keselain islam seperti Yahudi, Nasrani ataupun majusi.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Dalam surat Al-Qashas ini Allah SWT menggambarkan manusia memiliki keistimewaan yang membedakannya dari makhluk Allah lainnya. Juga dalam surat ini Allah SWT memberikan penerangan sebagian model kepribadian manusia yang memiliki keistemewaan dari kepribadian yang lainnya. Dan dalam surat ini juga menjelaskan gambaran kepribadian yang baik dan buruk.

H. KESIMPULAN
Kepribadian adalah suatu karakteristik yang dimiliki oleh seseorang secara konsisten berlangsung lama dan menjadi suatu cirri khas bagi individu tersebut. Sejak awal Al-Qur’an sudah menerangkan bahwa ; diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lain bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui QS. Ar-Ruum (30);22
Pada dasarnya semua manusia itu adalah baik. Yang banyak mengubah adalah lingkungan social kemasyarakatan dan budaya setempat, yang paling utama adalah lingkungan keluarga. Factor ini banyak mengambil andil dalam proses perkembangan kepribadian manusia. Seperti yang diterangkan pada hadist nabi bahwa ; “Tidak ada seorang jabang bayipun kecuali dia terlahir berdasarkan fitroh. Lantas kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi orang yahudi, nasrani, maupun majusi”
Pengalaman-pengalaman yang didapat individu dari lingkungan inilah yang akan merubah cara pandang mereka dan akan membentuk kepribadian mereka pula. Tapi pada seseorang yang mempunyai konsep diri yang baik maka tidak akan mudah dipengaruhi oleh lingkungan social yang sifatnya negative. Konsep diri yang baik disini yang dimaksud adalah iman dan taqwa seseorang. Apabila pada diri manusia terdapat dua hal ini, maka dapat dikatakan bahwa dia mempunyai pondasi yang akan membawa mereka menuju keselamatan dunia dan akhirat. Amin…

REFERENSI

Prof. DRS. H. Masjfuk Zuhdi. Pengantar ILMU HADIST. PT Bina Ilmu. 1993: Surabaya
Psikologi dalam Tinjauan Hadist Nabi
Alwisol. Psikologi Kepribadian. UMM. 2006: Malang
Dr. C. George Boeree. Personality Theories melacak kepribadian anda dengan psikolog dunia. Prima Sophie. 2006: Yogyakarta
Pengantar Psikologi Kepribadian Non-Psikoanalitik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
;