Selasa, 26 April 2011

Professional Multi-Colaborration Learning (Pro-Murni) 2#


By. Ridho Hudayana

Pro-Murni. New Style, Old Way ala Backpacker

Jika anda pernah tau bagaimana budaya belajar mengajar ketika dimasa ke-emasan pendidikan di Bagdad yang terkenal dengan kisah 1001 malam dengan kemajuan yang tak ter-tandingi didunia pada saat itu (786-809 M) pada masa pemerinahan Harun Ar-Rasyid. Pada masa-masa seperti itu, para pelajar keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu kepada sang guru yang terkenal memiliki ilmu yang merek a butuhkan, walaupun perjalanan yang sangat jauh dari kampung halaman mereka. Dan mereka pelajari dengan penuh kecintaan tanpa keterpaksaan,  yang bisa anda perhatikan hari ini sebagian besar pendidikan di negeri ini  menjadi kehilangan ruh nya, indikator mudahnya, mereka para pelajar disekolah formal sebagian mereka sangat senang kalau pulang lebih awal dari waktunya dan senang kalau hari libur resmi atau karena liburan sekolah dan karena gurunya sedang ada tugas diluar kota. Dari generasi ini kemudian lahir orang-orang hebat sepanjang masa dalam ilmu kedokteran seperti Ibnu Sina, dan ilmuwan-ilmuawan lainnya.

Jika anda pernah menyaksikan film cina  tempo dulu, yang menampilkan sosok-sosok pelajar cina yang berpakaian rapi dan membawa tas ransel dari kayu berjalan untuk menemukan guru yang punya keahlian yang ia cari. Dengan cara menjadi Backpacker, mereka melakukan perjalanan untuk belajar ke guru hingga kepelosok negeri. Mereka lakukan semata-mata dikarenakan kecintaannya pada ilmu pengetahuan yang ia akan pelajari dari seorang guru yang ahli dibidang tersebut. Dengan perjuangan itu, selalu membuat mereka semakin antusias menuntut ilmu dengan orang-orang yang  ahli dalam bidangnya.

Jika metode seperti yang ringkas dipaparkan diatas, diterapkan, maka ini adalah metode belajar yang baru bagi dunia pendidikan formal. Karena seperti yang kita ketahui di sekolah-sekolah formal yang belajar classical dengan guru yang tidak ada jaminan merkea adalah ahli dalam bidang mereka, kecuali hanya sekedar tahu teori dan sedikit  praktek ilmu tersebut. Diperparah dengan sedikit diantara murid disekolah hari ini yang mempunyai motivasi yang baik untuk belajar. Karena mungkin gurunya tidak memberikan motivasi itu. Dan mereka pun tidak tertarik dengan ilmu yang diajarkan.

Namun cara lama  inilah cara yang efektif dan teruji kehebatannya oleh para ilmuwan di zaman dahulu, yang menghasilkan banyak khazanah ilmu pengetahuan, yang sampai hari ini kita nikmati ilmu pengetauan itu. Kenapa tidak kita coba kembali mengambil model yang efektif dan menyenangkan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para ilmuan dahulu.

Pro-Murni metode yang menapak tilas dari metode pembelajaran orang-orang yang terdahulu sudah mencapai puncak emas ke-ilmuan mereka dengan ciri khas kecintaan pada ilmua yang menggebu-gebu didalam dada mereka. Sehingga mereka mendapatkannya dengan pengorbanan mereka itu. Karenanya ilmu yang diperoleh adalah selalu berbanding lurus dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Dalam metode ini, hendak menjadikan ilmu semakin dicintai dan hidup semakin lapang karenanya.

Sebagai contohnya, dalam Pro-Murni nantinya semua akan menentukan cita-citanya, kemudian mereka menentuan ilmu apa yang akan mereka butuhkan dan mereka akan mempelajarinya dengan praktisi yang memiliki prestasi dan ahli dalam bidangnya. Mereka akan sedikit diarahkan dalam mencari guru-guru itu. Tentunya dalam perjalanannya mereka tidak akan sedikit mengeluarkan kesabaran dan biaya untuk itu, namun mereka akan dibantu bagaimana cara mendapatkan sejumlah dana tersebut untuk menuntut ilmu iti ke guru-guru tersebut.

2 komentar:

erikmarangga mengatakan...

Like this brother:)
harus ada banyak orang yang diracuni untuk melakukan backpacking dan memahami apa inti bacpacking sebenarnya. Ayo, ita menjadi musafir2 profesional:)

ridho hudayana mengatakan...

yukzz..

Poskan Komentar

 
;