Selasa, 26 Mei 2009

Psikologi Umum



Psikologi Umum 

A. Pengertian Psikologi
Secara etimologis “Psikologi” berasal dari bahasa Yunani: Psyche dan logos. Psyche artinya jiwa dan logos berarti ilmu. Dalam bahasa arab psikologi disebut dengan “Ilmu an Nafsi”. Yang belakangan kemudian dikembangkan menjadi satu ilmu bernama “Nafsiologi”. Dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan “Ilmu Jiwa”.
Secara terminologi (menurut istilah pengetahuannya) Psikologi adalah “Ilmu yang mempelajari tentang segala hal yang berhubungan dengan jiwa, hakekatnya, asal usulnya, proses bekerjanya dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Psikologi dapat diartikan pula dengan “Ilmu yang mempelajari tentang segala hal yang berhubungan dengan jiwa, hakekatnya, asal usulnya, proses bekerjanya dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Psikologi dapat diartikan pula dengan “Ilmu yang mempelajari prilaku manusia atau tingkah laku manusia”. Setelah Psikologi berkembang luas dan dituntut mempunyai ciri-ciri sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan, maka “Jiwa” dipandang terlalu abstrak. Ilmu pengetahuan menghendaki objeknya bisa diamati, dan dicatat dan diukur. Dan ternyata perilaku dianggap lebih mudah diamati, dicatat dan diukur. Meskipun demikian, arti perilaku ini diperluas tidak hanya mencakup perilaku “kasat mata” seperti : makan, membunuh, menangis dan lain-lain, tetapi juga mencakup perilaku “tidak kasat mata” seperti : fantasi, motivasi, contoh (mengapa membunuh?), atau proses yang terjadi pada waktu seseorang tidak bergerak (tidur) dan lain-lain.
“Prilaku” mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebabnya mungkin tidak dapat diamati langsung.
2. Prilaku mengenal berbagai tingkatan. Ada prilaku sederhana dan Stereotip seperti prilaku binatang satu sel, ada juga prilaku yang kompleks seperti dalam prilaku sosial manusia. Ada prilaku yang sederhana seperti refleks, tetapi ada juga yang melibatkan proses-proses mental-fisiologis yang lebih tinggi.
3. Prilaku bervariasi menurut jenis-jenis tertentu yang bisa diklasifikasikan. Salah satu klasifikasi yang umum dikenal adalah: Kognitif, afektif dan psikomotorik, masing-masing merujuk pada yang sifatnya rasional, emosional, dan gerakan-gerakan fisik dalam berprilaku.
4. Prilaku bisa disadari dan tidak disadari. Walau sebagian besar perilaku sehari-hari kita sadari, tetapi kadang-kadang kita ternyata pada diri sendiri mengapa kita berprilaku seperti itu. 

B. Hubungan Psikologi dengan Disiplin Ilmu Lain
Prilaku manusia tidak hanya dipelajari oleh psikologi, tetapi juga oleh Antropologi, Kedokteran, Sosiologi, manajemen dan beberapa cabang Linguistik. Semua ini dikelompokan kedalam keluarga besar “Ilmu-Ilmu Prilaku” (Behavioral Sciences). Yang membedakan Psikologi dari ilmu-ilmu prilaku lain adalah : bahwa psikologi lebih menaruh perhatian pada prilaku manusia sebagai individu, sedang antropologi, sosiologi dan manajemen lebih pada prilaku manusia sebagai kelompok. Kedokteran memang menaruh perhatian pada prilaku individu, tetapi lebih menekan gejala-gejala fisik dan Psikologi lebih pada gejala-gejala mental.
Di pihak lain, Psikologi juga dipandang sebagai Ilmu Biososial karena baik aspek-aspek sosial perilaku organisme maupun aspek-aspek Fisiologis atau Biologis terjadinya prilaku mendapat perhatian yang sama besarnya.
Sejak awal perkembangannya Psikologi banyak dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lain. Telah diakui bahwa psikologi berinduk kepada Filsafat, khususnya filsafat mental. Namun dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu (Beta) seperti Fisika, Kimia dan Biologi memberikan andil yang cukup besar baik dalam aspek metodologi maupun topik-topik kajian. Sulit untuk merinci pengaruh tersebut satu persatu. Berikut ini sekedar gambaran umum dari pengaruh ilmu-ilmu lain serta cabang-cabang Psikologi yang lahir dari singgungan tersebut diatas. 

Dibawah ini adalah pengaruh ilmu-ilmu lain terhadap Psikologi dan cabang-cabang yang ditimbulkannya : 

ILMU-ILMU LAIN PSIKOLOGI 

Fisika PsikoFisika

Kimia Neurokemis Perilaku

Biologi Psikologi 

Matematika Psikologi Kuantitatif 

Kedokteran Psikologi Klinis/Psikoterapi

Sosiologi Psikologi Sosial 

Antropologi Psikologi Lintas Budaya 

Pendagogi Psikologi Pendidikan/
Psikologi Sekolah/
Psikologi Intruksional

C. Hubungan Psikologi dengan Tugas Pekerjaan
Hubungan Psikologi dengan pekerjaan sangat erat sekali untuk menghasilkan pekerjaan yang baik dan maksimal harus ditunjang atau diiringi oleh prilaku atau tingkah laku yang positif, yakni didukung dengan mental yang seimbang, yang tidak mengakibatkan penyimpangan-penyimpangan norma-norma dan nilai-nilai hukum yang ada.
- Hubungan Psikologi dengan Seorang Guru
Untuk masa sekarang ini banyak sekali kejadian-kejadian yang sangat merusak nilai-nilai dan norma-norma hukum agama maupun hukum negara yang menimpa dunia pendidikan, baik pendidiknya maupun anak didiknya. Yang mana semua itu akibat dari sumber daya manusianya sendiri (SDM) yang tertekan mentalnya oleh krisis-krisis yang terjadi baik krisis agama, krisis ekonomi, krisis budaya dan krisis hukum. Untuk itu hanya ada satu jalan keluar yang terbaik yakni SDM (Sumber Daya Manusia)nya harus kembali kepada norma-norma agama agar melahirkan SDM atau seorang pendidik yang berjiwa atau bermental positif dan seimbang. Dan yang sangat penting juga adalah dukungan dan peran serta pemerintah harus segera memperbaiki krisis agama, krisis ekonomi dan krisis budaya dan krisis hukum.
Akan tetapi semua itu akan sulit terwujud apabila masing-masing individunya tidak mau merubahnya. 

- Hubungan psikologi dengan seorang POLISI / TNI
Untuk Hubungan Psikologi dengan seorang Polisi atau TNI tidak akan jauh beda dengan gambaran yang sudah di jelaskan di atas, karena pada kenyataannya fenomena-fenomena yang terjadi di dalam tubuh Polisi atau TNI disebabkan oleh krisis-krisis aturan dan sistem-sistem yang dibuat oleh manusia yang memiliki prilaku dan mental yang rusak yang didorong oleh krisis agama (yakni jiwa yang lepas dari aturan ajaran-ajaran agama) ; krisis ekonomi (yakni karena terdorong banyak kekurangan dan kesulitan dalam mencukupi nafkahnya, sehingga mereka terpaksa melakukan prilaku-prilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai dan hukum-hukum yang ada); Krisis budaya (yakni mereka harus mengikuti tradisi-tradisi yang masih mengiblat kepada tradisi dan sistem-sistem peraturan pada zaman kolonial); krisis hukum ( yakni berlakunya hukum yang tidak tegas dan tidak pasti).

D. Metode Pengenalan Tingkah Laku Manusia
Istilah metode memiliki kesamaan pengertian dengan prosedur, tata cara, alat, dan tehnik. Dalam metode penelitian yang digunakan psikologi memiliki kesamaan dengan metode yang digunakan oleh sains. Metode digunakan sejauh mampu menggali tingkah laku sebagai objek kajian psikologi. Metode ilmiah mendapat tekanan sebagai metode penelitian psikologi agar proses menjaring data, Uji Hipotesis, dan teori bukan saja menghasilkan sebuah temuan yang bersifat deskriptif, namun demi pengembangan psikologi sendiri sebagai sebuah disiplin Ilmu.
Beberapa macam metode Psikologi, sebagai berikut :
1. Metode Observasi, yakni metode penelitian yang digunakan untuk mempelajari dan mengomentari gejala-gejala kejiwaan secara cermat teliti dan sistematis. Observasi terdapat empat macam tehnik antara lain :
a. Natural Observasi, yakni penelitian yang dilakukan secara alamiah. Yang dimaksud dengan alamiah adalah tindakan atau situasi yang terjadi spontan alias tidak dibuat-buat.
b. Intropeksi (restropeksi), secara harfiah Intro berarti “dalam”, retro berarti “kembali” dan Spektro berarti “melihat”. Tehnik Intropeksi (restropeksi) adalah tehnik untuk melihat gejala psikis diri sendiri
c. Ekstropeksi, yakni tehnik yang mempelajari gejala dengan jalan mempelajari peristiwa-peristiwa atau proses-proses psikis orang lain secara seksama dan sistematis dengan menggali apa yang sebenarnya yang ada di balik ekspresi atau tingkah laku seseorang seperti perubahan roman muka dan gerak-gerik postur tubuh. Contoh ketika seseorang ketakutan biasanya menunjukan muka pucat atau lari sekencang-kencangnya
2. Metode Dukomen, yakni metode yang digunakan Untuk menyelidiki gejala- gejala kejiwaan manusia dengan cara mengumpulkan bahan-bahan atau dokumen catatan kehidupan seseorang sebanyak-banyaknya, kemudian di bandingkan dan di analisis, lalu ditarik kesimpulan-kesimpulan umum. Tehnik yang sering di gunakan dalam metode ini antara lain : (a) penyebaran angket; (b) Riwayat Hidup (biografi); (c) tehnik projective Test, yakni mengumpulkan dokumen mengenai permainan-permainan, gambar-gambar, karangan-karangan untuk kemudian dilakukan tes sesuai dengan intruksi permainan atau gambar untuk menemukan gambaran umum keadaan jiwa seseorang.
3. Metode klinis, Dinamakan metode klinis pertama kali digunakan dirumah adalah : si pasien sakit sebagai bagian proses penyembuhan penyakit. Keuntungan dari metode ini adalah bahwa si pasien di periksa berhadapan dengan penyidik atau Dokter, sehingga ia bisa memberikan respon secara langsung dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dengan catatan agar suasana tanggung jawab dibuat serileks mungkin untuk menjaga agar jalan pikiran yang diselidiki tidak terganggu. Metode klinis dapat dilakukan di rumah sakit, pusat gangguan jiwa, rumah pemasyarakatan, pusat rehabilitasi Narkoba, Klinik atau badan Biro lembaga konsultasi, bimbingan penyuluhan psikologi.
4. Metode Eksperimen, metode ini biasanya dilakukan dalam laboratorium melalui Eksperimen (Percobaan). Eksperimen dilakukan untuk menguji hipotesis tentang reaksi-reaksi individu atau kelompok dalam situasi tertentu untuk menentukan gejala-gejala jiwa tertentu secara umum seperti pikiran, kemauan, ingatan, potensi, dan sebagainya. Melalui metode ini dapat pula diketahui perbedaan kapasitas individual, kondisi mental, bakat dan watak seseorang.

E. Gejala-gejala Kejiwaan Pada Manusia Normal
Jiwa manusia merupakan satu totalitas yang tidak bisa dibagi-bagi dan dipisah-pisahkan, di ibaratkan seperti rangkaian-rangkaian yang saling berkaitan satu sama lain dan tentu juga jiwa tidak bisa berdiri sendiri.
Jiwa yang ada pada manusia secara garis besar di bagi menjadi :
1. An naps Al Muthmainnah “(Jiwa yang tenang)” Yakni jiwa yang senantiasa patuh dan tunduk kepada perintah Allah SWT.
2. An naps Al Lawwamah “(Jiwa yang menyesali dirinya sendiri)” yakni Nafsu yang senatiasa gelisah dan tidak pernah puas terhadap apa yang dilakukannya.
3. An naps Al Ammaroh “(Jiwa yang selalu menyuruh kejahatan)” yakni, nafsu yang sentias patuh dan tunduk pada ajakan syahwat dan setan.
Macam-macam kegiatan Jiwa memiliki ciri-ciri khusus yang mencangkup konasi, kognisi, dan emosi. Yang disebut dengan gejala campuran kegiatannya meliputi perhatian, keletihan, dan sugesti.
A. Perhatian, yaitu kegiatan jiwa yang terpusat pada objek tertentu baik didalam maupun diliuar dirinya. Perhatian sangat erat hubungannya dengan kesadaran. Pehatian dari satu objek biasanya selalu bermula dari adanya kesadaran terhadap objek yang menjadi sasaran kita.
Proses-prose yang dapat menumbuhkan perhatian yaitu :
1. Proses Inhibisi, yaitu menghilangkan isi kesadaran yang tidak ada hubungannya dengan objek yang akan menjadi sasaran perhatian kita.
2. Proses Apersepsi, yakni berusaha untuk mendatangkan dan mengerahkan isi kesadaran kita hanya pada satu objek saja yang telah menjadi sasaran kita agar bisa membuat perhatian kita menjadi terfokus.
3. Proses adaptasi, yakni kita harus bisa menyesuaikan isi keadaan dengan kondisi objek sasaran kita tersebut. Sehingga tidak akan terjadi simpang siur atau pertentangan yang bisa menghambat atau mengganggu perhaitan kita.
B. Keletihan (kelelahan). Di dalam kehidupan kita sehari-hari manusia pasti memiliki alat penggerak di dalam dirinya untuk bisa melakukan kegiatan–kegiatan atau aktivitas-aktivitas. Alat penggerak tersebut akan mengalami penurunan sehingga kegiatanpun semakin berkurang dan menurun.
Gejala menurun dan berkurangnya daya penggerak disebut : keletihan atau kelelahan. Kelelahan menyebabkan segala fungsi jasmaniah dan rohaniah menjadi tidak efesien. Kelelahan mempunyai fungsi khusus yaitu sebagai pengatur kondisi tubuh kita
C. Sugesti adalah pengaruh yang berlangsung terhadap kehidupan dan segenap perbuatan, perasaan pikiran atau kemauan kita sangat dibatasi, orang-orang yang sangat mudah terkena sugesti disebut sugestibel dan orang yang memiliki daya pengaruh disebut sugestif
Sugesti memiliki peran yang sangat penting dalam setiap aspek kehidupan kita karena pada dasarnya jiwa manusia selalu berubah-ubah kadang naik-kadang turun. Sehingga memerlukan dorongan sugesti yang terus menerus. Apalagi seorang pemimpin atau pendidik harus bisa memberikan dorongan sugesti kepada anak buah atau murid-muridnya dengan cara yang positif dan tepat tentunya dengan demikian dia akan disegani, dipercaya, ditaati oleh orang-orang disekitarnya kemungkinan besar dia akan berhasil dalam aktivitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
;